Aturan Terkait Cuti Haid berdasarkan Undang-Undang

Recruit First
Undang Undang Ketenagakerjaan
13 Oct 2023
Aturan Terkait Cuti Haid berdasarkan Undang-Undang

Ada saat di mana pekerja perempuan mengalami masa menstruasi yang menghalanginya untuk bekerja lebih produktif daripada biasanya. Menstruasi bukan siklus bulanan yang dianggap remeh. Tubuh perempuan bekerja lebih banyak sehingga mereka sering merasa tidak nyaman ketika memasuki fase menstruasi. Dalam kondisi tersebut, kamu perlu memberikan cuti haid kepada pekerja perempuan.

Cuti haid termasuk dalam jenis cuti yang diberlakukan di regulasi ketenagakerjaan di Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit pemberi kerja yang belum menyadari hal ini, padahal cuti ini berharga di mata pekerja perempuan. Ada pula yang sudah menyadari aturan mengenai cuti haid, tetapi belum paham dengan ketentuan praktis seperti pemberian upah.

Sebagai pemberi kerja yang baik, kamu wajib memahami ketentuan mengenai cuti haid yang benar agar bisa diterapkan dengan bijak di tempat kerjamu. Baca terus artikelnya sampai selesai, ya!

Undang-Undang yang Mengatur Cuti Haid

Tahukah kamu kalau peraturan mengenai cuti haid sebenarnya sudah ada jauh sebelum diberlakukan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan?

Ya! Aturan pertama yang mengatur tentang cuti haid adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1948 tentang Undang-Undang Kerja tahun 1948, lebih tepatnya ada di Pasal 13 ayat 1. Pada aturan tersebut, dinyatakan bahwa buruh wanita tidak boleh diwajibkan bekerja pada hari pertama dan kedua waktu haid. Pekerja perempuan pada saat itu harus beristirahat ketika mulai mengalami fase menstruasi.

Lalu, lahirlah Undang-Undang Ketenagakerjaan pada tahun 2003. Aturan ini masih menegaskan bahwa cuti haid merupakan hak karyawan perempuan yang harus dipenuhi. Hanya saja ada syarat tambahan yang harus dilakukan pekerja perempuan ketika hendak mengajukan cuti haid, yaitu pembuktian perempuan yang merasa sakit ketika datang bulan. 

Hal ini tertuang dalam pasal 81 ayat 1 yang menyatakan bahwa pekerja perempuan tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua masa haid apabila merasakan sakit dan kondisi ini harus diberitahukan kepada pemberi kerja.

Pertanyaannya, bagaimana cara pekerja perempuan bisa mengambil cuti haid? Jawabannya dikembalikan lagi kepada perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, sesuai dengan pasal 81 ayat 2 Undang-Undang Ketenagakerjaan. Kalau ketentuannya tidak diatur dalam tiga aturan tersebut, pekerja perempuan tetap berhak mengambil cuti haid asalkan perlu memberitahukan kepada atasan dan departemen Human Resources.

Perdebatan mengenai cuti haid kembali muncul tatkala peraturan ini tidak ditemukan dalam peraturan ketenagakerjaan terbaru, yaitu Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Nyatanya, cuti haid masih ada dan tetap diberlakukan bersamaan dengan cuti melahirkan. Hanya saja tidak ada perubahan ketentuan cuti haid sehingga kamu masih perlu merujuk pada pasal 81 Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Apakah Cuti Haid tetap Mendapatkan Upah?

Ya, pekerja perempuan yang mengambil cuti haid tetap berhak mendapatkan upah. Pernyataan ini ditegaskan dalam pasal 93 ayat 2 Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berbunyi: ‘Pengusaha wajib membayar upah apabila pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan’.

Dari aturan di atas, kamu bisa melihat bahwa pekerja perempuan yang mengambil cuti haid tetap mendapatkan upah penuh dan tidak ada pemotongan.

Kenapa Perusahaan Harus Memberikan Cuti Haid pada Pekerja Perempuan?

Untuk memahami betapa krusialnya cuti haid, ada baiknya kamu memahami tentang fase menstruasi dan dampaknya bagi tubuh perempuan dulu. Menstruasi adalah fase yang biasa dialami oleh perempuan yang sudah memasuki masa pubertas, termasuk juga wanita dewasa yang sudah bekerja. Ketika perempuan mengalami haid, lapisan dalam rahim yang disebut endometrium mengalami peluruhan. Nah, proses ini biasanya berlangsung sekitar 5-7 hari setiap bulannya.

Haid menyebabkan banyak perubahan dalam tubuh perempuan, termasuk perubahan hormon dan fisik. Yang menjadi masalahnya adalah beberapa pekerja perempuan merasa tidak nyaman pada hari pertama menstruasi, kram perut, sakit, atau bahkan sampai pingsan (dismenore).

Menurut Kementerian Kesehatan, dismenore adalah rasa sakit pada perut bagian bawah yang bisa menyebabkan pinggang, punggung bawah, dan paha terasa sakit. Rasa sakit yang muncul pada saat haid ini membuat pekerja perempuan merasa susah fokus selama bekerja. Mereka membutuhkan istirahat agar bisa pulih dan kembali produktif seperti sedia kala serta memberikan kontribusi terbaik untuk tempat kerja kamu.

Apakah cuti haid ini hanya berlaku di Indonesia? Tentu saja tidak. Negara Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang memberikan waktu istirahat bagi pekerja perempuan yang sedang haid. Menariknya, Jepang sudah mempraktikkan ini sejak tahun 1947 dan perusahaan di Negeri Sakura tidak wajib membayar upah kepada pekerja karyawan meski cuti ini tidak dimanfaatkan. Di benua Afrika, Zambia baru menerapkan aturan cuti haid pada tahun 2015.

Sekarang kamu sudah paham kenapa cuti haid penting bagi pekerja perempuan, kan? Selain cuti haid, mereka juga berhak mendapatkan cuti melahirkan yang butuh waktu sampai 3 bulan. Untuk memahami peraturan cuti melahirkan, kamu bisa baca artikel ini: Memahami Aturan Cuti Melahirkan Berdasarkan Undang-undang.

Kamu sedang berencana untuk mencari talenta baru di perusahaan? Serahkan saja tugas ini ke tangan RecruitFirst, perusahaan outsourcing Indonesia yang siap membantumu dalam mencari tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi kamu. Hubungi kami untuk mulai berkonsultasi untuk mendapatkan talenta yang mau berkontribusi besar bagi perusahaan kamu!

Author

Debby Lim

As the practice leader of RecruitFirst Indonesia, Debby brings to the table over 13 years of industry experience.